clasical
dikotomi
M. Khoirul Yusuf
Dikotomi
dalam ilmu ekonomi sendiri mengacu pada pembagian variabel-veriabel pada
makroekonomi menjadi dua bagian, yaitu Variabel Riil dan Variabel Nominal. Variabel
riil artinya bahwa ketika ada inflasi nilainya akan tetap sama. Yang termasuk
variabel riil adalah Tenaga kerja, Modal Alam, Upah riil, PDB riil, Tingkat
suku bunga riil, lifeskill(modal manusia). Sedangkan variabel nominal adalah
PDB Nominal, suku bunga nominal, upah nominal.
Mungkin kita dapat melihat contoh yang lebih riil
di kehidupan nyata. Misalkan anda memiliki gaji 1 jt per bulan. Dengan uang 1
jt anda dapat menukarkan gaji anda tersebut dengan 100 kg beras. Suatu ketika
jumlah uang yang beredar meningkat sehingga akan menyebabkan inflasi. Sehingga
harga beras pun juga ikut naik dari 1 jt per 100 kg menjadi 1,2 jt per 100 kg.
Namun, dengan adanya regulasi pemerintah yang mewajibkan perusahaan menaikkan
gaji anda menjadi 1,2 jt. Mungkin anda berpikiran bahwa gaji andan naik, anda
merasa lebih kaya dan dapat membeli lebih banyak barang. Namun, kenyataanya
anda tetap hanya bisa membeli beras sebanyak 100kg tidak lebih. Hal ini dapat
menggambarkan efek dari kenetralan moneter. Upah nominal anda mungkin naik dari
1 jt menjadi 1,2 jt. Namun, upah riil anda tetap yaitu sebesar 100 kg beras.
Namun,
dalam kehidupan nyata kenetralan moneter tidak dapat diterapkan sepenuhnya,
khususnya dalam jangka pendek. Seperti contoh diatas perihal konversi ukuran
dari 2,45 cm/inchi. Dalam jangka panjang mungkin masyarakat tidak akan masalah
dengan perubahan konversi ini. Namun, dalam jangka pendek masyarakat pasti akan
kebingunan dengan perubahan konversi ini. Hal ini disebabkan oleh belum
terbiasanya masyarakat dengan konversi yang baru, belum ditambah lagi dengan
label-label ukuran barang lama yang belum mengikuti sistem konversi yang baru.
Maka dapat dikatakan bahwa perubahan konversi ini dalam waktu singkat akan
menimbulkan kekacauan. Hal ini sama halnya dengan kenaikan gaji. Dalam jangka
pendek masyarakat belum menyadari bahwa mereka sesungguhnya tidak mendapat
kenaikan gaji. Hal ini menyebabkan masyarakat merasa lebih kaya dan ingin
membelanjakan uangnya lebih banyak sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa gaji
yang mereka dapat sama seperti sebelum terjadi kenaikan harga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar