Kamis, 24 April 2014

Clasical Dicotomi



clasical dikotomi
  M. Khoirul Yusuf
Dikotomi dalam ilmu ekonomi sendiri mengacu pada pembagian variabel-veriabel pada makroekonomi menjadi dua bagian, yaitu Variabel Riil dan Variabel Nominal. Variabel riil artinya bahwa ketika ada inflasi nilainya akan tetap sama. Yang termasuk variabel riil adalah Tenaga kerja, Modal Alam, Upah riil, PDB riil, Tingkat suku bunga riil, lifeskill(modal manusia). Sedangkan variabel nominal adalah PDB Nominal, suku bunga nominal, upah nominal.
Mungkin kita dapat melihat contoh yang lebih riil di kehidupan nyata. Misalkan anda memiliki gaji 1 jt per bulan. Dengan uang 1 jt anda dapat menukarkan gaji anda tersebut dengan 100 kg beras. Suatu ketika jumlah uang yang beredar meningkat sehingga akan menyebabkan inflasi. Sehingga harga beras pun juga ikut naik dari 1 jt per 100 kg menjadi 1,2 jt per 100 kg. Namun, dengan adanya regulasi pemerintah yang mewajibkan perusahaan menaikkan gaji anda menjadi 1,2 jt. Mungkin anda berpikiran bahwa gaji andan naik, anda merasa lebih kaya dan dapat membeli lebih banyak barang. Namun, kenyataanya anda tetap hanya bisa membeli beras sebanyak 100kg tidak lebih. Hal ini dapat menggambarkan efek dari kenetralan moneter. Upah nominal anda mungkin naik dari 1 jt menjadi 1,2 jt. Namun, upah riil anda tetap yaitu sebesar 100 kg beras.
Namun, dalam kehidupan nyata kenetralan moneter tidak dapat diterapkan sepenuhnya, khususnya dalam jangka pendek. Seperti contoh diatas perihal konversi ukuran dari 2,45 cm/inchi. Dalam jangka panjang mungkin masyarakat tidak akan masalah dengan perubahan konversi ini. Namun, dalam jangka pendek masyarakat pasti akan kebingunan dengan perubahan konversi ini. Hal ini disebabkan oleh belum terbiasanya masyarakat dengan konversi yang baru, belum ditambah lagi dengan label-label ukuran barang lama yang belum mengikuti sistem konversi yang baru. Maka dapat dikatakan bahwa perubahan konversi ini dalam waktu singkat akan menimbulkan kekacauan. Hal ini sama halnya dengan kenaikan gaji. Dalam jangka pendek masyarakat belum menyadari bahwa mereka sesungguhnya tidak mendapat kenaikan gaji. Hal ini menyebabkan masyarakat merasa lebih kaya dan ingin membelanjakan uangnya lebih banyak sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa gaji yang mereka dapat sama seperti sebelum terjadi kenaikan harga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar